GALENIK DAN SEJARAHNYA

Galenus (Yunani: Γαληνός, Latin: Claudius Galenus dari Pergamum (129-200), lebih dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Galen), adalah seorang dokter (atau tabib) dari Yunani kuno. Ia memiliki pengaruh besar dalam kedokteran Eropa.
Kehidupan
Galen dilahirkan di Pergamum (kini: Bergama, Turki), putra dari Nicon, seorang arsitek kaya. Ia memiliki ketertarikan pada bidang pertanian, arsitektur, astronomi, astrologi, filsafat, hingga akhirnya ia memilih untuk berkonsentrasi pada kedokteran.
Pada usia 20 tahun ia telah menjadi seorang tabib pada kuil Asclepius selama 4 tahun. Setelah kematian ayahnya pada 148 atau 149, ia merantau untuk belajar di Smyrna, Korintus, dan Alexandria selama 12 tahun. Ketika ia kembali ke Pergamum pada 157, ia bekerja sebagai seorang dokter di sekolah gladiator sleama 3 sampai 4 tahun. Selama masa itu, ia banyak belajar mengenai perawatan dan penyembuhan trauma dan luka. Kemudian ia mengistilahkan luka sebagai "jendela untuk masuk ke tubuh".
Galen melakukan operasi yang berbahaya yang tidak pernah dilakukan lagi hampir selama 2 milenium terakhir termasuk pembedahan otak dan mata. Untuk mengoperasi katarak, ia menyelipkan sebuah alat seperti benang ke mata hingga di belakang lensa mata. Ia kemudian menariknya untuk mengangkat katarak. Kesalahan sedikit dapat menyebabkan buta permanen. Selain itu ia juga meletakkan dasar standar untuk kedokteran modern.
Pada 162, ia pindah ke Roma di mana ia banyak menyebarkan ilmu anatomi. Reputasinya kian naik dan dikenal sebagai ahli kedokteran yang berpengalaman dan memiliki klien yang tersebar luas. Salah satunya adalah konsul Flavius Boethius yang akhirnya memperkenalkan ia menjadi tabib kerajaan. Ia turut merawat Lucius Verus, Commodus dan Spetimius Severus. Ia sempat kembali ke tanah airnya, Pergamum selama 166 hingga 169.
Galen menghabiskan sisa hidupnya di kerajaan. Sesuai tradisi, tahun meninggalnya ditetapkan sekitar tahun 200 sesuai dengan dokumen Suda Lexicon dari abad ke-10. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ia meninggal pada 216, disebabkan perkiraan karya tulis terakhirnya dituliskan pada akhir 207.
Karya dan pengaruh
Galen meneruskan kedokteran Hippokrates di zaman Renaisans. Ia pun mengemukakan empat humor (cairan) tubuh yaitu darah, empedu kuning (yellow bile), empedu hitam (black bile) dan mukus. Empat hal ini akan berputar sesuai dengan empat musim. Ia menysuun teorinya sendiri dari prinsip tersebut dan banyak karyanya didasarkan pada prinsip Hippokrates.
Karya terbesarnya adalah tujuh belas buku dari On the Usefulness of the Parts of the Human Body. Ia juga menulis tentang filsafat dan anatomi.
Teori yang dikemukakan oleh Galen didasarkan dari penciptaan oleh Pencipta ("Alam" - Greek phusis) - alasan utama mengapa kelak para sarjana Islam dan Kristen dapat menerima pandangannya.
Menurutnya, prinsip kehidupan yang paling dasar adalah pneuma atau udara yang kemudian dapat dikaitkan dengan jiwa. Hal ini membuktikan bahwa dunia kedokterannya sangat dipengaruhi oleh hal-hal filosofis. Pneuma physicon (roh hewani) di otak mengatur pergerakan, persepsi, dan indera. Pneuma zoticon (roh hayati) yang ada di jantung mengatur darah dan suhu tubuh. "Roh alamiah" di hati mengatur nutrisi dan metabolisme.
Galen memperluas wawasannya dengan melakukan penelitian pada hewan. Salah satu metodenya adalah menunjukkan pembedahan pada seokar babi, memotong saraf laringealnya (nantinya bagians araf ini dikenal sebagai Saraf Galen) yang dapat menghentikan erangan babi tersebut. Ia juga pernah mengikat ureter pada hewan yang masih hidup untuk menunjukkan bahwa urin berasal dari ginjal, dab merusak saraf untuk menunjukkan paralisis. Metode penunjukkan kepada publik seperti yang dilakukan oleh Galen ini digunakan sebagai cara belajar bagi mahasiswa kedokteran dan tak jarang menimbulkan perdebatan.
Ada bebrapa teori Galen yang terbukti benar seperti argumentasinya akan pikiran yang terdapat di otak, bukan di hati seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles.
Bagaimanapun juga ada beberapa teori yang cacat seperti pemahaman Galen akan sistem sirkulasi. Ia menduga sistem vena dan arteri adalah dua sistem yang terpisah. Teori ini akhirnya ditolak oleh William Harvey pada abad ke-17. Oleh karena ia menggunakan hewan sebagai media percobaannya, terdapat kesalahpahaman antara organ hewan dan organ manusia. Hal ini dikarenakan tidak semua organ serupa pada setiap spesies.
Ilmu kedokteran di Arab pada zaman pertengahan mengembangkan apa yang telah ditemukan para pakar Yunani kuno, termasuk pula karya Galen seperti teori humoralnya. Banyak karya Galen yang dituliskan dalam bahasa Yunani diterjemahkan ke bahasa Suriah oleh Imam Nestor di Universitas Gundishapur, Persia. Oleh ilmuwan Arab, karya Galen kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

FARMAKOGNOSI DAN SEJARAH

sejarah farmasi selama berabad-abad identik dengan sejarah farmakognosi , atau studi materia medika yang diperoleh dari sumber-sumber alami-kebanyakan tumbuh-tumbuhan dan juga mineral, hewan dan jamur. (Heinrich,M ,etc,.2009) Tinjauan sejarah ini hanya mencakup tradisi Eropa dan Asia yang telah diketahui dengan baik : obat tradisional Cina (traditional Chinese medicine/TCM), Ayurveda dan Jamu
Istilah farmakognsi berasal dari kata Yunani yaitu:  Pharmacon (obat) dan Gnosis (ilmu pengetahuan).  Istilah ini diperkenalkan oleh S.A.Seydler, seorang mahasiswa kedokteran di Halle/Saale, Jerman, yang menggunakan judul ”Analectica Pharmacognoistica” dalam disetasinya pada tahun 1815.  Namun penelitian sejarah terakhir telah menemukan penggunaan istilah ”Farmakognosis” yang lebih awal J.A. Schmidt menggunakan istilah tersebut dalam Lehrbuch der Materia Medica, dipublikasikan di Vienna tahun 1811 yang  menjelaskan tentang studi tumbuhan obat dan sifat-sifat (classbhe.files.wordpress.com/…/pendahuluan-farmakognosi-sejarah.d…)
Pada akhir abad ke-20 terjadi 3 kejadian penting yang telah menghasilkan perubahan mendasar pada sikap/perilaku masyarakat dan ilmuan tentang farmakognosi.  Pertama, orang awam menemukan kegunaan seluruh tumbuhan obat atau yang umumnya mereka sebut dengan herba.  Ketidakpuasan terhadap kemanjutan dan biaya obat modern ditambah dengan makin meningkatnya depresiasi terhadap sesuatu yang bersifat ”alami” dan ”organik” telah mengakibatkan berjuta orang di seluruh dunia menambah apresiasi yang mendalam terhadap penggunaan obat tradisional untuk pengobatan bermacam penyakitnya (classbhe.files.wordpress.com/…/pendahuluan-farmakognosi-sejarah.d…).
SUMBER INFORMASI
Sumber informasi yang tersedia untuk memahami sejarah penggunaan tumbuhan obat(juga nutrisi dan racun) adalah catatan arkeologis dan dokumen tertulis.
Catatan dari Negara Arab dan Eropa Kuno (Heinrich,M ,etc,.2009)
Contoh di Negara Eropa pada zaman dulu adalah jamur obat yang ditemukan bersama ‘manusia es’ dari Austria/Italia di pegunungan Alpen Ötztal (3300 SM). Dua objek berbentuk kenari di identifikasikan sebagai pohon bepori (Pipoporus betulinus), suatu jamur hambalan yang umumnya terdapat di pegunungan tinggi dan lingkungan dingin lainnya. Spesies ini mengandung bahan alam beracun dan salah satu unsure aktifnya (asam agarat) merupakan pencahar yang sangat kuat dan efektif  sehingga senyawa ini menyebabkan diare berlangsung singkat dan kuat.
Dokumen Shanidar IV
Kuburan manusia Neandertal masa Shanidar IV, suatu tempat arkeologis di Iraq, merupakan catatan terdokumetasi paling awal yang diperkirakan berhubungan dengan tumbuhan obat, sejak dari 60.000 SM. Serbuk sari dari beberapa spesies tumbuh-tumbuhan , yang diperkirakan dipergunakan sebagai obat , telah ditemukan (Leroi-Gourhan 1975, Lietava 1992):
Centaurea solsitialis L. (Knapweed, Asteraceae)
Ephedra altissima (efedra, Ephedraceae)
Achillea sp. (yarrow, Asteraceae)
Muscari sp. (grape hyacinth, Lilliaceae/Hyacinthaceae)
Senecio sp. (groundsel,Asteraceae)
Spesies-spesies ini diperkirakan berada di tanaha dan memebentuk suatu hamparan yang diatasnya terbaring jasad renik spesies-spesies ini. Tumbuhan-tumbuhan ini kemungkinan merupakan budaya utama yang penting bagi orang-orang Shanidar IV.
Catatan Klasik dari Arab, Yunani, dan Roma (Heinrich,M ,etc,.2009)
Informasi tertulis paling tua dalam tradisi orang Eropa-Arab berasal dari orang Sumeria dan Akkad di Mesopotamia. Penduduk ini berasal dari daerah yang sama seperti yang tercatat arkeologis Shanidar IV.
Obat Yunani telah menjadi fokus penelitian searah farmasi selama beberapa dasawarsa. seorang sarjana Yunani, Pedanius Dioscorides dari anarzabos (1 SM) dianggap sebagai ‘bapak obat-obatan [dinegara barat]‘. Karyanya merupakan suatu doktrin yang mengatur praktik farmasi dan kedokteran selama lebih dari 1500 tahun dan yang berpengaruh besar terhadap farmasi di eropa.




•   pandanius dioscorides
salinan tertua dan paling terkenal adalah naskah Byzantine yang di produksi sekitar tahun 1512 untuk Anicia Juliana, putri Flavius Anicius Olybrius, yaitu  kaisar dari kekaisaran barat pada 472 AD. Halaman di atas diambil dari naskah ini dan Anda dapat melihat beberapa penjelasan dalam bahasa Arab. (reneeyancy.blogspot.com)
para sarjana yunani lainnya yang berpengaruh dengan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan alam. Hipokrates, seorang dokter medis Yunani (kira-kira 460-375  SM) berasal dari pulau Kos dan mempunyai pengaruh besar terhadap tradisi medis Eropa.
Dokter Yunani-Roma, Cladius Galen (Galenus) (tahun 130-201) meringkas bidang kompleks kedokteran dan farmasi Yunani-Roma, dan namanya digunakan dalam istilah farmasi ‘galenika’.
Yang paling penting dalam tulisan ini adalah Papirus Ebers, yang berasal dari sekitar 1500 SM.
                         
Naskah  Shen nong ben cao jing   yang telah di ubah ke bahasa inggris.
salah satu contoh papyrus ebers
Dokumen ini di yakini ditemukan dalam makam dan dibawa pada tahun 1873 oleh Georg Ebers, orang yang menyimpannya di Universitas Leipzig dan dua tahun kemudian di publikasikan dalam edisi faksimili. Papirus Ebers merupakan buku pegangan medis yang mencakup semua macam penyakit dan termasuk empiris dan juga bentuk simbolik pengobatan.
Catatan Klasik dari Cina(Heinrich,M ,etc,.2009)
Di Cina , bidang ini berkembang sebagai unsur Taoisme yang menggap; para pengikut berusaha untuk menjamin hidup yang lama (atau kekekalan) melalui meditasi, makanan khusus, tumbuhan obat, latihan dan praktik seksual tertentu. Kerja paling penting dalam tradisi ini adalah Shen nong ben cao jing (‘Risalah Obat dari Negarawan yang Hebat’) yang sekarang ini hanya tersedia sebagai kompilasi terakhir( Waller 1998).

Naskah  Shen nong ben cao jing
Seksi penting Tentang Obat-obatan kerja Orang Cina (setelah waller 1998)
•    Shen nong ben Ciao Jing ( Risalah obat negarawan yang hebat) , Tahun 200 SM, penulis; Shen Nong
•    Shang han za bing Lun (tentang berbagai penyakit yang disebabkan pilek), Tahun Abad ke-2, penulis; tidak diketahui
•    Shen nong ben ciao jing fi zhu (Penjalasan-penjelasan yang terkumpul pada Shen nong ben cioa jing), tahun Abad ke-6, penulis; Too Hongjing, dll.
Obat Tradisional Lainnya(Heinrich,M ,etc,.2009) 
•    Ayurveda

             ayurveda  merupakan obat paling kuno dari semua obat tradisonal. Ayurveda dianggap merupakan asal mula obat tersistematis karena tulisan-tulisan Hindu kuno tentang obat tidak mengandung referensi obat luar negeri, sedangkan teks-teks Yunani dan Timur tengah merujuk kepada ide-ide dan obat-obat yang berasal dari india.
Istilah ‘ ayurveda’ berasal dari kata ayur yang berarti ‘hidup’ dann ‘veda‘ yang berarti pengetahuan serta tambahan terakhir untuk tulisan suci Hindu dari  1200 SM  disebut Artharva-veda.
•    Jamu
              Jamu, obat tradisonal indonesia yang di duga berasal dari keraton Surakarta dan Yogyakarta di Jawa Tengah , dari praktik budaya jawa kuno  dan juga sebagai hasil pengaruh obat Cina, india dan Arab.
            Setelah islam masuk di jawa dan kerajaan majapahit hancur , banyak orang jawa melarikan diri terutama ke Bali, membawa buku-buku , budaya dan kebiasaanya termasuk obat. Ada beberapa catatan yang masih ada , tetapi catatan tersebut  masih sering di rahasiakan oleh tabib atau keluarga mereka. Mereka menganggap hal ini suci dan tertutup bagi orang luar , contohnya seperti catatan yang ada di Yogyakarta.

            Jamu berisi unsur-unsur TCM, seperti mengobati penyakit-penyakit ‘panas’ dengan obat ‘dingin’, dan ayurveda yang menggunakan aspek religius  dan pemijatan sangat penting.
            Dua maunskrip yang paling penting adalah - serta kawruh bab jampi-jampi (‘Suatu risalah berbagai macam penyembuhan ‘) dan Serta Centhini ‘ (Buku Sentini’) ada di perpustakaan Keraton surakarta.

•    Kampo
Kampo, atau obat tradisional jepang ,  kadang-kadang berhubungan dengan dosis rendah TCM. Sistem Cina merupakan bentuk utama praktik medis di Jepang, yang daang melalui Korea dan dijadikan obat asli di jepang . Pertukaran pelajar dengan Cina mempunyai arti bahwa praktik medis dan keagaamaan sebenarnya identik; sebagai contoh, sistm medis yang terbentuk di jepang pada tahun 702 merupakan salinan yang sama dengan sistem dinasti T’ang .


Kampo herbal
Seorang farmasis menyiapan peresepan dari obat herbal kampo pada salah satu rumah sakit …


http://smf-alfurqan.blogspot.com/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

TUBERCULOSIS


4.1.1 Definisi Tuberkulosis
  Tuberkulosis adalah penyakit yang menular langsung yang di sebabkan oleh kuman TBC(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
 Kuman TBC berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Oleh Karena itu di sebut juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun.
4.1.2 Fatofisiologi TBC
  Penyebab TBC adalah suatu penyakit infeksi yang di sebabkan oleh bakteri Mycrobacterium Tuberculosis. Bakteri ini pertama kali di temukan oleh Robert Koch pada tahun 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut di beri nama basil Koch. Bahkan penyakit TBC pada paru-paru kadang di sebut sebagai Koch pulmonun (KP).

4.1.3 Penggolongan Obat Anti Tuberkulosis
4.1.3.1 Lini pertama
a. Isoniazid
Isoniazid bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat, aktif terhadap kuman yang berada intraseluler dalam makrofag maupun diluar sel (ekstraseluler).
·         Mekanisme kerja
Dengan menghambat biosintesis asam mikolat (micolic acid) yang merupakan unsur penting dingding sel mikrobakterium.
·         Efek samping
Mengakibatkan gatal-gatal dan ikterus juga polyneuritis, yakni radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan penglihatan, perasaan tidak sehat, letih dan lemah serta anoreksia.
·         Farmakokinetik
Dari usus sangat cepat difusinya ke dalam jaringan dan cairan tubuh, di dalam hati, INH diasetilasi oleh enzim asetiltransferase menjadi metabolit inaktif. PP-nya ringan sekali, plasma-t ½ nya antara 1 dan 4 jam tergantung pada kecepatan asetilasi. Eksresinya terutama melalui ginjal dan sebagian besar sebagai asetilisoniazid.

b. Rifampisin
Antibiotikum ini adalah derivat  semi sintetis dari rifampisin B (1965) yang dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei. Rifampisin berkhasiat bakterisid luas, baik yang berada diluar maupun di dalam sel (ekstra-intraseluler).
·         Mekanisme kerja
Berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu.
·         Efek samping
Penyakit kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis bagi hati. Rifampisin juga dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi.
·         Farmakokinetik
Reabsorpsinya di usus sangat tinggi, distribusi ke jaringan dan cairan tubuh juga baik. Plasma-t½ nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam. Ekskresinya khusus melalui empedu, sedangkan melalui ginjal berlangsung secara fakultatif.
c. Etambutol    
Etambutol bersifat bakteriostatik. Obat ini tetap menekan   pertumbuhan kuman tuberculosis yang telah resisten terhadap isoniazid dan streptomisin.
·         Mekanisme kerja
 Etambutol bekerjanya menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati.
·         Efek samping
 Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Dosis harian sebesar 15 mg/kg BB menimbulkan efek toksis yang minimal. Pada dosis ini kurang 2% pasien akan mengalami efek samping yaitu penurunan ketajaman penglihatan, ruam kulit dan demam.
·         Farmakokinetik
 Pada pemberian oral sekitar 75-80% etambutol di serap dari saluran cerna. Kadar puncak dari plasma di capai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kg BB menghasilkan kadar plasma sekitar 5 ml pada 2-4 jam.
d. Pirazinamid
Analogon pirazin dari nikotinamida ini (1952) bekerja bakterisid pada suasana asam atau bakteriostatik, tergantung pada pH dan kadarnya di dalam darah. Spektrum kerjanya sangat sempit dan hanya meliputi M.tuberculosis.
·         Mekanisme kerja
Berdasarkan pengubahannya menjadi asam pirazinat oleh enzim pyrazinamidase yang berasal dari basil TBC. Begitu pH dalam makrofag di turunkan, maka kuman yang berada di “sarang” infeksi yang menjadi asam akan mati .
·         Efek samping
Kerusakan hati dengan ikterus (hepatotoksis) terutama pada dosis diatas 2 g sehari. Dapat pula menimbulkan serangan encok (gout) juga gangguan pada lambung-usus, fotosensibilisasi, artralgia, demam, malaise dan anemia, juga menurunkan kadar gula darah.
·         Famakokinetik
Reabsorpsinya cepat & sempurna, kadar maksimal dalam plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam . Distribusinya ke jaringan dan cairan serebrospinal baik. Kurang lebih 70% pirazinamida diekskresikan lewat urin.
e. Streptomisin
Suatu aminoglikosida , diperoleh dari Streptomyces griseus (1944), senyawa ini bersifat bakterisid terhadap banyak kuman  Gram negatif  dan Gram positif.
·         Mekanisme kerja
Berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal. Antibiotik ini toksis untuk organ pendengaran dan keseimbangan.
·         Efek samping
Gangguan penglihatan berupa Neuritis optica (radang saraf mata) dan bersifat reversible bila pengobatan dihentikan. Sebaiknya jangan diberikan pada anak kecil, karena kemungkinan gangguan penglihatan (visus) sulit di deteksi.
·         Farmakokinetik
Reabsorpsinya baik (75-80%) , plasma-t½ nya 3-4 jam .Ekskresinya lewat ginjal (80%).
4.1.3.2 Lini Kedua
a.   Ofloxacin
Suatu senyawa antibakteri sintetik dari golongan kuinolon yang bersifat bakterisida. Ofloksasin aktif terhadap bakteri aerobik gram positif termasuk penghasil penisilinase
·         Mekanisme kerja
menghambat DNA girase, suatu enzim essensial yang merupakan katalitas penting dalam duplikasi dan transkripsi DNA bakteri.
·         Efek samping
Mual, muntah, diare, sakit kepala, ruam dan gatal
b.   Levofloxacin
Levofloxacin memiliki spectrum antibakteri yang luas, yang aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negative.
·         Mekanisme kerja
Dengan cara menghambat replikasi dan transkripsi DNA bakteri
·         Efek samping
Mual, muntah, diare, konstipasi, sakit kepala, insomnia, mengantuk, gatal, keringat berlebih dan lelah.
·         Farmakokinetik
Pada pemberian oral, levofloxacin diabsorpsi secara cepat dan hamper sempurna. Konsentrasi plasma tertinggi biasanya dicapai 1-2 jam setelah minum obat. Penetrasi levofloxacin pada jaringan paru sangat baik
c.    Ciprofloxacin
Ciprofloxacin merupakan suatu anti infeksi sintetik golongan quinolon, ciprofloxacin efektif terhadap bakteri gram-negatif dan gram-positif.
·         Mekanisme kerja
Dengan cara menghambat DNA topoisomerase yang biasa disebut DNA girase.
·         Efek samping
Mual, muntah, diare, sakit kepala, letih, gangguan penglihatan dan anemia.
·         Farmakinetik
Ciprofloxacin diabsorpsi dengan baik oleh saluran pencernaan. Ciprofloxacin dan metabolitnya di eksresikan melalui urin dan feses.

4.1.4 FDC (Fixed Dose Combination)
FDC juga dapat di sebut sebagai KDT (kombinasi dosis tetap) yang berarti gabungan antara beberapa obat anti tuberculosis dalam satu macam obat.
Pengobatan Tuberulosis diberikan dalam dua tahap, yaitu :
·         Tahap intensif
                                                              i.      Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap  hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
                                                            ii.      Bila pengobatan tahap intesif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
                                                          iii.      Sebagian besar pasien Tuberkulosis BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
·         Tahap lanjutan
                                                              i.      Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
                                                      ii.      Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
a. FDC kategori 1
Tahap intensif terdiri dari 2RHZE (Rifampisin, Isoniazid, Pyrazinamid, Etambutol). Obat-obat tersebut di berikan setiap hari selama 2 bulan Kemudian di teruskan dengan tahap intermiten (lanjut) yang terdiri dari 4RH3 (Rifampisin dan Isoniazid), di berikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan, di berikan untuk :
-          Pasien Baru TB paru BTA (+)
-           Pasien Paru BTA (-) ronsen (+)
-           Pasien TB Ekstra Paru
b. FDC kategori 2
Tahap intensif terdiri dari 2RHEZS (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, Pirazinamid, Streptomisin). Dan obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan, kemudian diteruskan dengan RHEZ (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, pirazinamid) yang diberikan setiap hari selama satu bulan.
Tahap lanjutan terdiri dari 5R3H3E3 (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol) yang diberikan tiga kali seminggu dalam waktu 5 bulan.
Paduan  OAT ini di berikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya :
a.       Pasien kambuh
b.      Pasien gagal
c.       Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)
c. FDC kategori anak
Tahap intensif terdiri dari 2RHZ (Rifampicin, Isoniazid, pirazinamid) yang di berikan setiap hari selama 2 bulan.
Tahap lanjutan terdiri dari 4RH (Rifampisin, Isoniazid) yang diberikan 3 kali seminggu selama 4 bulan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Kamis, 01 November 2012

GALENIK DAN SEJARAHNYA

Galenus (Yunani: Γαληνός, Latin: Claudius Galenus dari Pergamum (129-200), lebih dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Galen), adalah seorang dokter (atau tabib) dari Yunani kuno. Ia memiliki pengaruh besar dalam kedokteran Eropa.
Kehidupan
Galen dilahirkan di Pergamum (kini: Bergama, Turki), putra dari Nicon, seorang arsitek kaya. Ia memiliki ketertarikan pada bidang pertanian, arsitektur, astronomi, astrologi, filsafat, hingga akhirnya ia memilih untuk berkonsentrasi pada kedokteran.
Pada usia 20 tahun ia telah menjadi seorang tabib pada kuil Asclepius selama 4 tahun. Setelah kematian ayahnya pada 148 atau 149, ia merantau untuk belajar di Smyrna, Korintus, dan Alexandria selama 12 tahun. Ketika ia kembali ke Pergamum pada 157, ia bekerja sebagai seorang dokter di sekolah gladiator sleama 3 sampai 4 tahun. Selama masa itu, ia banyak belajar mengenai perawatan dan penyembuhan trauma dan luka. Kemudian ia mengistilahkan luka sebagai "jendela untuk masuk ke tubuh".
Galen melakukan operasi yang berbahaya yang tidak pernah dilakukan lagi hampir selama 2 milenium terakhir termasuk pembedahan otak dan mata. Untuk mengoperasi katarak, ia menyelipkan sebuah alat seperti benang ke mata hingga di belakang lensa mata. Ia kemudian menariknya untuk mengangkat katarak. Kesalahan sedikit dapat menyebabkan buta permanen. Selain itu ia juga meletakkan dasar standar untuk kedokteran modern.
Pada 162, ia pindah ke Roma di mana ia banyak menyebarkan ilmu anatomi. Reputasinya kian naik dan dikenal sebagai ahli kedokteran yang berpengalaman dan memiliki klien yang tersebar luas. Salah satunya adalah konsul Flavius Boethius yang akhirnya memperkenalkan ia menjadi tabib kerajaan. Ia turut merawat Lucius Verus, Commodus dan Spetimius Severus. Ia sempat kembali ke tanah airnya, Pergamum selama 166 hingga 169.
Galen menghabiskan sisa hidupnya di kerajaan. Sesuai tradisi, tahun meninggalnya ditetapkan sekitar tahun 200 sesuai dengan dokumen Suda Lexicon dari abad ke-10. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ia meninggal pada 216, disebabkan perkiraan karya tulis terakhirnya dituliskan pada akhir 207.
Karya dan pengaruh
Galen meneruskan kedokteran Hippokrates di zaman Renaisans. Ia pun mengemukakan empat humor (cairan) tubuh yaitu darah, empedu kuning (yellow bile), empedu hitam (black bile) dan mukus. Empat hal ini akan berputar sesuai dengan empat musim. Ia menysuun teorinya sendiri dari prinsip tersebut dan banyak karyanya didasarkan pada prinsip Hippokrates.
Karya terbesarnya adalah tujuh belas buku dari On the Usefulness of the Parts of the Human Body. Ia juga menulis tentang filsafat dan anatomi.
Teori yang dikemukakan oleh Galen didasarkan dari penciptaan oleh Pencipta ("Alam" - Greek phusis) - alasan utama mengapa kelak para sarjana Islam dan Kristen dapat menerima pandangannya.
Menurutnya, prinsip kehidupan yang paling dasar adalah pneuma atau udara yang kemudian dapat dikaitkan dengan jiwa. Hal ini membuktikan bahwa dunia kedokterannya sangat dipengaruhi oleh hal-hal filosofis. Pneuma physicon (roh hewani) di otak mengatur pergerakan, persepsi, dan indera. Pneuma zoticon (roh hayati) yang ada di jantung mengatur darah dan suhu tubuh. "Roh alamiah" di hati mengatur nutrisi dan metabolisme.
Galen memperluas wawasannya dengan melakukan penelitian pada hewan. Salah satu metodenya adalah menunjukkan pembedahan pada seokar babi, memotong saraf laringealnya (nantinya bagians araf ini dikenal sebagai Saraf Galen) yang dapat menghentikan erangan babi tersebut. Ia juga pernah mengikat ureter pada hewan yang masih hidup untuk menunjukkan bahwa urin berasal dari ginjal, dab merusak saraf untuk menunjukkan paralisis. Metode penunjukkan kepada publik seperti yang dilakukan oleh Galen ini digunakan sebagai cara belajar bagi mahasiswa kedokteran dan tak jarang menimbulkan perdebatan.
Ada bebrapa teori Galen yang terbukti benar seperti argumentasinya akan pikiran yang terdapat di otak, bukan di hati seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles.
Bagaimanapun juga ada beberapa teori yang cacat seperti pemahaman Galen akan sistem sirkulasi. Ia menduga sistem vena dan arteri adalah dua sistem yang terpisah. Teori ini akhirnya ditolak oleh William Harvey pada abad ke-17. Oleh karena ia menggunakan hewan sebagai media percobaannya, terdapat kesalahpahaman antara organ hewan dan organ manusia. Hal ini dikarenakan tidak semua organ serupa pada setiap spesies.
Ilmu kedokteran di Arab pada zaman pertengahan mengembangkan apa yang telah ditemukan para pakar Yunani kuno, termasuk pula karya Galen seperti teori humoralnya. Banyak karya Galen yang dituliskan dalam bahasa Yunani diterjemahkan ke bahasa Suriah oleh Imam Nestor di Universitas Gundishapur, Persia. Oleh ilmuwan Arab, karya Galen kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab.

FARMAKOGNOSI DAN SEJARAH

sejarah farmasi selama berabad-abad identik dengan sejarah farmakognosi , atau studi materia medika yang diperoleh dari sumber-sumber alami-kebanyakan tumbuh-tumbuhan dan juga mineral, hewan dan jamur. (Heinrich,M ,etc,.2009) Tinjauan sejarah ini hanya mencakup tradisi Eropa dan Asia yang telah diketahui dengan baik : obat tradisional Cina (traditional Chinese medicine/TCM), Ayurveda dan Jamu
Istilah farmakognsi berasal dari kata Yunani yaitu:  Pharmacon (obat) dan Gnosis (ilmu pengetahuan).  Istilah ini diperkenalkan oleh S.A.Seydler, seorang mahasiswa kedokteran di Halle/Saale, Jerman, yang menggunakan judul ”Analectica Pharmacognoistica” dalam disetasinya pada tahun 1815.  Namun penelitian sejarah terakhir telah menemukan penggunaan istilah ”Farmakognosis” yang lebih awal J.A. Schmidt menggunakan istilah tersebut dalam Lehrbuch der Materia Medica, dipublikasikan di Vienna tahun 1811 yang  menjelaskan tentang studi tumbuhan obat dan sifat-sifat (classbhe.files.wordpress.com/…/pendahuluan-farmakognosi-sejarah.d…)
Pada akhir abad ke-20 terjadi 3 kejadian penting yang telah menghasilkan perubahan mendasar pada sikap/perilaku masyarakat dan ilmuan tentang farmakognosi.  Pertama, orang awam menemukan kegunaan seluruh tumbuhan obat atau yang umumnya mereka sebut dengan herba.  Ketidakpuasan terhadap kemanjutan dan biaya obat modern ditambah dengan makin meningkatnya depresiasi terhadap sesuatu yang bersifat ”alami” dan ”organik” telah mengakibatkan berjuta orang di seluruh dunia menambah apresiasi yang mendalam terhadap penggunaan obat tradisional untuk pengobatan bermacam penyakitnya (classbhe.files.wordpress.com/…/pendahuluan-farmakognosi-sejarah.d…).
SUMBER INFORMASI
Sumber informasi yang tersedia untuk memahami sejarah penggunaan tumbuhan obat(juga nutrisi dan racun) adalah catatan arkeologis dan dokumen tertulis.
Catatan dari Negara Arab dan Eropa Kuno (Heinrich,M ,etc,.2009)
Contoh di Negara Eropa pada zaman dulu adalah jamur obat yang ditemukan bersama ‘manusia es’ dari Austria/Italia di pegunungan Alpen Ötztal (3300 SM). Dua objek berbentuk kenari di identifikasikan sebagai pohon bepori (Pipoporus betulinus), suatu jamur hambalan yang umumnya terdapat di pegunungan tinggi dan lingkungan dingin lainnya. Spesies ini mengandung bahan alam beracun dan salah satu unsure aktifnya (asam agarat) merupakan pencahar yang sangat kuat dan efektif  sehingga senyawa ini menyebabkan diare berlangsung singkat dan kuat.
Dokumen Shanidar IV
Kuburan manusia Neandertal masa Shanidar IV, suatu tempat arkeologis di Iraq, merupakan catatan terdokumetasi paling awal yang diperkirakan berhubungan dengan tumbuhan obat, sejak dari 60.000 SM. Serbuk sari dari beberapa spesies tumbuh-tumbuhan , yang diperkirakan dipergunakan sebagai obat , telah ditemukan (Leroi-Gourhan 1975, Lietava 1992):
Centaurea solsitialis L. (Knapweed, Asteraceae)
Ephedra altissima (efedra, Ephedraceae)
Achillea sp. (yarrow, Asteraceae)
Muscari sp. (grape hyacinth, Lilliaceae/Hyacinthaceae)
Senecio sp. (groundsel,Asteraceae)
Spesies-spesies ini diperkirakan berada di tanaha dan memebentuk suatu hamparan yang diatasnya terbaring jasad renik spesies-spesies ini. Tumbuhan-tumbuhan ini kemungkinan merupakan budaya utama yang penting bagi orang-orang Shanidar IV.
Catatan Klasik dari Arab, Yunani, dan Roma (Heinrich,M ,etc,.2009)
Informasi tertulis paling tua dalam tradisi orang Eropa-Arab berasal dari orang Sumeria dan Akkad di Mesopotamia. Penduduk ini berasal dari daerah yang sama seperti yang tercatat arkeologis Shanidar IV.
Obat Yunani telah menjadi fokus penelitian searah farmasi selama beberapa dasawarsa. seorang sarjana Yunani, Pedanius Dioscorides dari anarzabos (1 SM) dianggap sebagai ‘bapak obat-obatan [dinegara barat]‘. Karyanya merupakan suatu doktrin yang mengatur praktik farmasi dan kedokteran selama lebih dari 1500 tahun dan yang berpengaruh besar terhadap farmasi di eropa.




•   pandanius dioscorides
salinan tertua dan paling terkenal adalah naskah Byzantine yang di produksi sekitar tahun 1512 untuk Anicia Juliana, putri Flavius Anicius Olybrius, yaitu  kaisar dari kekaisaran barat pada 472 AD. Halaman di atas diambil dari naskah ini dan Anda dapat melihat beberapa penjelasan dalam bahasa Arab. (reneeyancy.blogspot.com)
para sarjana yunani lainnya yang berpengaruh dengan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan alam. Hipokrates, seorang dokter medis Yunani (kira-kira 460-375  SM) berasal dari pulau Kos dan mempunyai pengaruh besar terhadap tradisi medis Eropa.
Dokter Yunani-Roma, Cladius Galen (Galenus) (tahun 130-201) meringkas bidang kompleks kedokteran dan farmasi Yunani-Roma, dan namanya digunakan dalam istilah farmasi ‘galenika’.
Yang paling penting dalam tulisan ini adalah Papirus Ebers, yang berasal dari sekitar 1500 SM.
                         
Naskah  Shen nong ben cao jing   yang telah di ubah ke bahasa inggris.
salah satu contoh papyrus ebers
Dokumen ini di yakini ditemukan dalam makam dan dibawa pada tahun 1873 oleh Georg Ebers, orang yang menyimpannya di Universitas Leipzig dan dua tahun kemudian di publikasikan dalam edisi faksimili. Papirus Ebers merupakan buku pegangan medis yang mencakup semua macam penyakit dan termasuk empiris dan juga bentuk simbolik pengobatan.
Catatan Klasik dari Cina(Heinrich,M ,etc,.2009)
Di Cina , bidang ini berkembang sebagai unsur Taoisme yang menggap; para pengikut berusaha untuk menjamin hidup yang lama (atau kekekalan) melalui meditasi, makanan khusus, tumbuhan obat, latihan dan praktik seksual tertentu. Kerja paling penting dalam tradisi ini adalah Shen nong ben cao jing (‘Risalah Obat dari Negarawan yang Hebat’) yang sekarang ini hanya tersedia sebagai kompilasi terakhir( Waller 1998).

Naskah  Shen nong ben cao jing
Seksi penting Tentang Obat-obatan kerja Orang Cina (setelah waller 1998)
•    Shen nong ben Ciao Jing ( Risalah obat negarawan yang hebat) , Tahun 200 SM, penulis; Shen Nong
•    Shang han za bing Lun (tentang berbagai penyakit yang disebabkan pilek), Tahun Abad ke-2, penulis; tidak diketahui
•    Shen nong ben ciao jing fi zhu (Penjalasan-penjelasan yang terkumpul pada Shen nong ben cioa jing), tahun Abad ke-6, penulis; Too Hongjing, dll.
Obat Tradisional Lainnya(Heinrich,M ,etc,.2009) 
•    Ayurveda

             ayurveda  merupakan obat paling kuno dari semua obat tradisonal. Ayurveda dianggap merupakan asal mula obat tersistematis karena tulisan-tulisan Hindu kuno tentang obat tidak mengandung referensi obat luar negeri, sedangkan teks-teks Yunani dan Timur tengah merujuk kepada ide-ide dan obat-obat yang berasal dari india.
Istilah ‘ ayurveda’ berasal dari kata ayur yang berarti ‘hidup’ dann ‘veda‘ yang berarti pengetahuan serta tambahan terakhir untuk tulisan suci Hindu dari  1200 SM  disebut Artharva-veda.
•    Jamu
              Jamu, obat tradisonal indonesia yang di duga berasal dari keraton Surakarta dan Yogyakarta di Jawa Tengah , dari praktik budaya jawa kuno  dan juga sebagai hasil pengaruh obat Cina, india dan Arab.
            Setelah islam masuk di jawa dan kerajaan majapahit hancur , banyak orang jawa melarikan diri terutama ke Bali, membawa buku-buku , budaya dan kebiasaanya termasuk obat. Ada beberapa catatan yang masih ada , tetapi catatan tersebut  masih sering di rahasiakan oleh tabib atau keluarga mereka. Mereka menganggap hal ini suci dan tertutup bagi orang luar , contohnya seperti catatan yang ada di Yogyakarta.

            Jamu berisi unsur-unsur TCM, seperti mengobati penyakit-penyakit ‘panas’ dengan obat ‘dingin’, dan ayurveda yang menggunakan aspek religius  dan pemijatan sangat penting.
            Dua maunskrip yang paling penting adalah - serta kawruh bab jampi-jampi (‘Suatu risalah berbagai macam penyembuhan ‘) dan Serta Centhini ‘ (Buku Sentini’) ada di perpustakaan Keraton surakarta.

•    Kampo
Kampo, atau obat tradisional jepang ,  kadang-kadang berhubungan dengan dosis rendah TCM. Sistem Cina merupakan bentuk utama praktik medis di Jepang, yang daang melalui Korea dan dijadikan obat asli di jepang . Pertukaran pelajar dengan Cina mempunyai arti bahwa praktik medis dan keagaamaan sebenarnya identik; sebagai contoh, sistm medis yang terbentuk di jepang pada tahun 702 merupakan salinan yang sama dengan sistem dinasti T’ang .


Kampo herbal
Seorang farmasis menyiapan peresepan dari obat herbal kampo pada salah satu rumah sakit …


http://smf-alfurqan.blogspot.com/

TUBERCULOSIS


4.1.1 Definisi Tuberkulosis
  Tuberkulosis adalah penyakit yang menular langsung yang di sebabkan oleh kuman TBC(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
 Kuman TBC berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Oleh Karena itu di sebut juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun.
4.1.2 Fatofisiologi TBC
  Penyebab TBC adalah suatu penyakit infeksi yang di sebabkan oleh bakteri Mycrobacterium Tuberculosis. Bakteri ini pertama kali di temukan oleh Robert Koch pada tahun 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut di beri nama basil Koch. Bahkan penyakit TBC pada paru-paru kadang di sebut sebagai Koch pulmonun (KP).

4.1.3 Penggolongan Obat Anti Tuberkulosis
4.1.3.1 Lini pertama
a. Isoniazid
Isoniazid bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat, aktif terhadap kuman yang berada intraseluler dalam makrofag maupun diluar sel (ekstraseluler).
·         Mekanisme kerja
Dengan menghambat biosintesis asam mikolat (micolic acid) yang merupakan unsur penting dingding sel mikrobakterium.
·         Efek samping
Mengakibatkan gatal-gatal dan ikterus juga polyneuritis, yakni radang saraf dengan gejala kejang dan gangguan penglihatan, perasaan tidak sehat, letih dan lemah serta anoreksia.
·         Farmakokinetik
Dari usus sangat cepat difusinya ke dalam jaringan dan cairan tubuh, di dalam hati, INH diasetilasi oleh enzim asetiltransferase menjadi metabolit inaktif. PP-nya ringan sekali, plasma-t ½ nya antara 1 dan 4 jam tergantung pada kecepatan asetilasi. Eksresinya terutama melalui ginjal dan sebagian besar sebagai asetilisoniazid.

b. Rifampisin
Antibiotikum ini adalah derivat  semi sintetis dari rifampisin B (1965) yang dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei. Rifampisin berkhasiat bakterisid luas, baik yang berada diluar maupun di dalam sel (ekstra-intraseluler).
·         Mekanisme kerja
Berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga sintesa RNA terganggu.
·         Efek samping
Penyakit kuning (icterus), terutama bila dikombinasikan dengan INH yang juga agak toksis bagi hati. Rifampisin juga dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati, kejang perut dan diare, begitu pula gejala gangguan SSP dan reaksi hipersensitasi.
·         Farmakokinetik
Reabsorpsinya di usus sangat tinggi, distribusi ke jaringan dan cairan tubuh juga baik. Plasma-t½ nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam. Ekskresinya khusus melalui empedu, sedangkan melalui ginjal berlangsung secara fakultatif.
c. Etambutol    
Etambutol bersifat bakteriostatik. Obat ini tetap menekan   pertumbuhan kuman tuberculosis yang telah resisten terhadap isoniazid dan streptomisin.
·         Mekanisme kerja
 Etambutol bekerjanya menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati.
·         Efek samping
 Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Dosis harian sebesar 15 mg/kg BB menimbulkan efek toksis yang minimal. Pada dosis ini kurang 2% pasien akan mengalami efek samping yaitu penurunan ketajaman penglihatan, ruam kulit dan demam.
·         Farmakokinetik
 Pada pemberian oral sekitar 75-80% etambutol di serap dari saluran cerna. Kadar puncak dari plasma di capai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kg BB menghasilkan kadar plasma sekitar 5 ml pada 2-4 jam.
d. Pirazinamid
Analogon pirazin dari nikotinamida ini (1952) bekerja bakterisid pada suasana asam atau bakteriostatik, tergantung pada pH dan kadarnya di dalam darah. Spektrum kerjanya sangat sempit dan hanya meliputi M.tuberculosis.
·         Mekanisme kerja
Berdasarkan pengubahannya menjadi asam pirazinat oleh enzim pyrazinamidase yang berasal dari basil TBC. Begitu pH dalam makrofag di turunkan, maka kuman yang berada di “sarang” infeksi yang menjadi asam akan mati .
·         Efek samping
Kerusakan hati dengan ikterus (hepatotoksis) terutama pada dosis diatas 2 g sehari. Dapat pula menimbulkan serangan encok (gout) juga gangguan pada lambung-usus, fotosensibilisasi, artralgia, demam, malaise dan anemia, juga menurunkan kadar gula darah.
·         Famakokinetik
Reabsorpsinya cepat & sempurna, kadar maksimal dalam plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam . Distribusinya ke jaringan dan cairan serebrospinal baik. Kurang lebih 70% pirazinamida diekskresikan lewat urin.
e. Streptomisin
Suatu aminoglikosida , diperoleh dari Streptomyces griseus (1944), senyawa ini bersifat bakterisid terhadap banyak kuman  Gram negatif  dan Gram positif.
·         Mekanisme kerja
Berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal. Antibiotik ini toksis untuk organ pendengaran dan keseimbangan.
·         Efek samping
Gangguan penglihatan berupa Neuritis optica (radang saraf mata) dan bersifat reversible bila pengobatan dihentikan. Sebaiknya jangan diberikan pada anak kecil, karena kemungkinan gangguan penglihatan (visus) sulit di deteksi.
·         Farmakokinetik
Reabsorpsinya baik (75-80%) , plasma-t½ nya 3-4 jam .Ekskresinya lewat ginjal (80%).
4.1.3.2 Lini Kedua
a.   Ofloxacin
Suatu senyawa antibakteri sintetik dari golongan kuinolon yang bersifat bakterisida. Ofloksasin aktif terhadap bakteri aerobik gram positif termasuk penghasil penisilinase
·         Mekanisme kerja
menghambat DNA girase, suatu enzim essensial yang merupakan katalitas penting dalam duplikasi dan transkripsi DNA bakteri.
·         Efek samping
Mual, muntah, diare, sakit kepala, ruam dan gatal
b.   Levofloxacin
Levofloxacin memiliki spectrum antibakteri yang luas, yang aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negative.
·         Mekanisme kerja
Dengan cara menghambat replikasi dan transkripsi DNA bakteri
·         Efek samping
Mual, muntah, diare, konstipasi, sakit kepala, insomnia, mengantuk, gatal, keringat berlebih dan lelah.
·         Farmakokinetik
Pada pemberian oral, levofloxacin diabsorpsi secara cepat dan hamper sempurna. Konsentrasi plasma tertinggi biasanya dicapai 1-2 jam setelah minum obat. Penetrasi levofloxacin pada jaringan paru sangat baik
c.    Ciprofloxacin
Ciprofloxacin merupakan suatu anti infeksi sintetik golongan quinolon, ciprofloxacin efektif terhadap bakteri gram-negatif dan gram-positif.
·         Mekanisme kerja
Dengan cara menghambat DNA topoisomerase yang biasa disebut DNA girase.
·         Efek samping
Mual, muntah, diare, sakit kepala, letih, gangguan penglihatan dan anemia.
·         Farmakinetik
Ciprofloxacin diabsorpsi dengan baik oleh saluran pencernaan. Ciprofloxacin dan metabolitnya di eksresikan melalui urin dan feses.

4.1.4 FDC (Fixed Dose Combination)
FDC juga dapat di sebut sebagai KDT (kombinasi dosis tetap) yang berarti gabungan antara beberapa obat anti tuberculosis dalam satu macam obat.
Pengobatan Tuberulosis diberikan dalam dua tahap, yaitu :
·         Tahap intensif
                                                              i.      Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap  hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
                                                            ii.      Bila pengobatan tahap intesif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
                                                          iii.      Sebagian besar pasien Tuberkulosis BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
·         Tahap lanjutan
                                                              i.      Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama.
                                                      ii.      Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
a. FDC kategori 1
Tahap intensif terdiri dari 2RHZE (Rifampisin, Isoniazid, Pyrazinamid, Etambutol). Obat-obat tersebut di berikan setiap hari selama 2 bulan Kemudian di teruskan dengan tahap intermiten (lanjut) yang terdiri dari 4RH3 (Rifampisin dan Isoniazid), di berikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan, di berikan untuk :
-          Pasien Baru TB paru BTA (+)
-           Pasien Paru BTA (-) ronsen (+)
-           Pasien TB Ekstra Paru
b. FDC kategori 2
Tahap intensif terdiri dari 2RHEZS (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, Pirazinamid, Streptomisin). Dan obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan, kemudian diteruskan dengan RHEZ (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, pirazinamid) yang diberikan setiap hari selama satu bulan.
Tahap lanjutan terdiri dari 5R3H3E3 (Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol) yang diberikan tiga kali seminggu dalam waktu 5 bulan.
Paduan  OAT ini di berikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya :
a.       Pasien kambuh
b.      Pasien gagal
c.       Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)
c. FDC kategori anak
Tahap intensif terdiri dari 2RHZ (Rifampicin, Isoniazid, pirazinamid) yang di berikan setiap hari selama 2 bulan.
Tahap lanjutan terdiri dari 4RH (Rifampisin, Isoniazid) yang diberikan 3 kali seminggu selama 4 bulan.